Gambaran Klinis
Rasa Tidak Nyaman di Dada Tipe Iskemik atau Ekuivalen Angina
Nyeri dada retrosternal hadir sebagai angina atau rasa tidak nyaman di dada tipe iskemik dan biasanya digambarkan sebagai rasa berat, tekanan, rasa terikat, remasan, atau rasa terbakar. Nyeri yang biasanya berada di tengah atau di dada kiri dapat menjalar ke rahang, lengan kiri atau kedua lengan, punggung, atau bahu. Ini dapat terjadi saat istirahat atau selama aktivitas yang mungkin berhubungan dengan sekuat tenaga fisik atau stres emosional. Nyeri tersebut berlangsung lama dan biasanya tidak hilang sepenuhnya dengan istirahat atau Glyceryl trinitrate (GTN). Gejala ekuivalen nyeri dada (juga dikenal sebagai gejala jantung atipikal atau gejala yang berpotensi menandakan gangguan jantung): Nyeri muncul di area epigastrium, lengan, bahu, pergelangan tangan, rahang, atau punggung tanpa disertai nyeri pada dada. Rasa tidak nyaman yang hanya tampil sebagai nyeri rahang, leher, telinga, lengan, atau epigastrium dan berhubungan dengan aktivitas fisik atau stres atau langsung mereda dengan GTN harus dianggap sebagai ekuivalen angina. Orang lanjut usia, perempuan, dan penderita diabetes sering datang dengan ekuivalen angina. Gejala penyerta dari rasa tidak nyaman di dada tipe iskemik dapat meliputi mual dan muntah, dispnea, diaphoresis, pusing/terasa ringan kepala, nyeri perut (epigastrium), pening, kelelahan, kelemahan, dan kehilangan kesadaran.
Acute Coronary Syndromes w.out Persistent ST-Segment Elevation_Intial AssesmentPasien dengan SKA dapat datang dengan berbagai tanda dan gejala, dari asimtomatik saat presentasi hingga pasien dengan ketidaknyamanan dada berlanjut (misalnya nyeri, tekanan, kaku, rasa berat, terbakar). Pasien juga dapat datang dengan henti jantung, instabilitas elektrik atau hemodinamik, atau syok kardiogenik. Pasien usia lanjut sering memiliki presentasi atipikal dengan gejala kelemahan, kebingungan, delirium, atau sinkop. Pasien biasanya datang dengan nyeri dada tipe iskemik seperti diuraikan di atas, namun episode dapat lebih berat dan berkepanjangan, serta dapat terjadi saat istirahat atau dipicu oleh upaya fisik yang lebih ringan dibanding episode sebelumnya. Gejala padanan nyeri dada sering terlihat pada pasien lebih muda (25 hingga 40 tahun) dan lebih tua (>75 tahun), pada perempuan, dan pada pasien dengan diabetes melitus (DM), gagal ginjal kronis, atau demensia. Gejala padanan nyeri dada meliputi nyeri yang terutama terjadi saat istirahat, nyeri epigastrium, dispepsia tak dapat dijelaskan yang baru muncul, sendawa, nyeri dada seperti tertusuk, nyeri dada dengan beberapa fitur pleuritik, atau peningkatan dispnea.
Fitur umum angina tidak stabil (UA) meliputi:
-
Angina saat istirahat: Angina yang terjadi saat istirahat dan berkepanjangan, biasanya >20 menit
- Diklasifikasikan sebagai akut jika terjadi dalam 48 jam terakhir dan subakut jika terjadi dalam bulan terakhir tetapi tidak dalam 48 jam sebelumnya
-
Tidak ada angina saat istirahat
- Angina berat awitan baru: Pasien biasanya memiliki keterbatasan nyata pada aktivitas fisik biasa (angina terjadi saat berjalan satu hingga dua blok pada permukaan rata atau menaiki satu tangga dalam kondisi normal dan dengan kecepatan normal)
- Angina yang meningkat atau kresendo: Angina terkait aktivitas yang didiagnosis sebelumnya yang menjadi jelas lebih sering, durasinya lebih lama, atau lebih mudah dipicu (oleh aktivitas yang lebih ringan dari sebelumnya)
- Angina pasca-infark miokard: Terjadi dalam waktu 2 minggu setelah infark miokard (IM) akut
Pemeriksaan Fisik
Tujuan utama melakukan pemeriksaan fisik pada pasien yang dicurigai SKA adalah untuk mengidentifikasi penyebab pencetus (misalnya hipertensi tidak terkontrol, tirotoksikosis, infeksi, anemia, atau perdarahan gastrointestinal [GI]) dan kondisi komorbid (misalnya penyakit paru, diabetes dan komplikasi, obesitas, penyakit vaskular perifer, penyakit ginjal kronis [CKD], gagal jantung, atau kanker), untuk mengidentifikasi fitur SKA risiko sangat tinggi dan risiko tinggi, untuk menilai dampak hemodinamik dari kejadian iskemik, untuk menyingkirkan penyebab nyeri dada non-jantung (misalnya pneumotoraks, emboli paru, pneumonia, efusi pleura, rasa tidak nyaman pada esofagus, batu empedu, pankreatitis, atau berasal dari muskuloskeletal), dan untuk menilai gangguan jantung non-iskemik (misalnya perikarditis, penyakit katup, stenosis aorta, diseksi aorta, perikarditis akut, kardiomiopati hipertrofik, tamponade jantung).
Tanda vital juga diukur (misalnya tekanan darah [TD] di kedua lengan, detak jantung, laju napas, dan suhu). Pemeriksaan kardiovaskular dan dada secara menyeluruh juga dilakukan, meliputi auskultasi jantung, vena leher, hati, dan denyut nadi perifer untuk memeriksa adanya bising jantung (murmur), bising pembuluh darah (bruit), atau defisit nadi yang menandakan PJK (penyakit jantung koroner) berat yang mendasarinya. Perlu dicatat bahwa murmur yang baru muncul bisa disebabkan oleh ruptur septum ventrikel dan regurgitasi mitral. Disfungsi ventrikel kiri dan syok harus dicurigai jika pasien mengalami akral dingin, hipotensi, ronkhi paru, galop S3, pergeseran ictus cordis (apeks jantung), atau S1<S2 di apeks. Diseksi aorta mungkin terjadi jika terdapat nyeri di punggung, perbedaan kualitas denyut nadi, atau murmur regurgitasi aorta. Sementara itu, perikarditis akut dicurigai dengan adanya pericardial friction rub. Tamponade jantung dapat ditandai dengan ditemukannya pulsus paradoxus.
Pasien dengan pneumotoraks dapat mengalami dispnea akut, nyeri dada pleuritik, serta perbedaan suara napas. Terakhir, nyeri dada yang disebabkan oleh sindrom dinding dada muskuloskeletal dapat ditemukan melalui palpasi dinding dada.
Diagnosis atau Kriteria Diagnosis
Pasien dengan kecurigaan SKA harus dievaluasi dengan cepat untuk mengidentifikasi oklusi koroner akut secara dini dan menghindari penundaan terapi reperfusi. Diagnosis dan stratifikasi risiko jangka pendek awal SKA harus didasarkan pada anamnesis klinis yang cermat dan terarah, gejala, tanda vital, temuan pemeriksaan fisik lainnya, hasil elektrokardiogram (EKG), serta kadar high-sensitivity cardiac troponin (hs-cTn).
Infark miokard (IM) ditegakkan berdasarkan peningkatan dan/atau penurunan cTn, dengan setidaknya satu nilai >persentil ke-99 dari upper reference limit (URL), disertai setidaknya salah satu dari kriteria berikut:
- Anamnesis klinis yang sesuai dengan nyeri dada iskemik berdurasi >30 menit
- Perubahan EKG yang menunjukkan iskemia/infark dan/atau terbentuknya gelombang Q patologis
- Bukti pencitraan berupa hilangnya miokardium viable baru atau adanya regional wall motion abnormality baru
- Teridentifikasinya trombus intrakoroner melalui angiografi atau autopsi
