Molecular structure pattern

Sindrom Koroner Akut tanpa Elevasi Segmen ST yang Persisten Disease Summary

Last updated: 10 September 2026

Tinjauan Umum

Sindrom koroner akut mengacu pada setiap kumpulan gejala klinis yang kompatibel dengan iskemia miokard akut yang biasanya disebabkan oleh penurunan mendadak aliran darah koroner akibat ruptur atau erosi plak aterosklerotik dan trombosis setelahnya. Definisi lebih lanjut terdapat pada bagian Pendahuluan.

Sindrom koroner akut menyebabkan sekitar 32% dari seluruh kematian di seluruh dunia. Insidensi sindrom koroner akut secara lokal dan regional dibahas pada bagian Epidemiologi.

Seperti dijelaskan pada bagian Patofisiologi, ketidakseimbangan antara kebutuhan oksigen miokard dan konsumsi oksigen miokard yang mengakibatkan cedera miokard merupakan ciri khas dari sindrom koroner akut. Rincian lebih lanjut terdapat dalam bagian Patofisiologi.

Bagian Faktor Risiko merincikan faktor-faktor yang sama yang terlihat sebagai manifestasi dari penyakit jantung iskemik.

Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Pasien dengan sindrom koroner akut biasanya datang dengan nyeri dada retrosternal. Bagian Gambaran Klinis memberikan deskripsi lengkap mengenai rasa tidak nyaman di dada tipe iskemik yang dapat dialami oleh pasien. Pasien dengan sindrom koroner akut juga dapat datang dengan berbagai tanda dan gejala, mulai dari asimtomatik saat datang hingga pasien dengan rasa tidak nyaman di dada yang berlangsung terus-menerus. Bagian ini juga merincikan presentasi klinis lain dari penyakit tersebut.

Dalam bagian Pemeriksaan Fisik, dibahas mengenai pentingnya mengidentifikasi penyebab pencetus, fitur sindrom koroner akut risiko sangat tinggi dan risiko tinggi, serta menilai dampak hemodinamik dari kejadian iskemik dan gangguan jantung non-iskemik. Pemeriksaan fisik harus mencakup pengukuran tanda vital serta pemeriksaan kardiovaskular dan dada.

Diagnosis

Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang serta studi Pencitraan yang sangat penting untuk diagnosis sindrom koroner akut meliputi EKG, Rontgen dada, dan indikator biokimia (misalnya troponin T atau I jantung, mioglobin dan/atau creatine kinase) dibahas dalam bagian ini. Pemeriksaan diagnostik lain yang mungkin berguna dalam diagnosis sindrom koroner akut juga disertakan.

Diagnosis didasarkan pada riwayat klinis, gejala, tanda vital, dan temuan fisik lainnya, hasil EKG, serta hasil laboratorium seperti yang dibahas dalam bagian Diagnosis atau Kriteria Diagnosis.

Penyakit yang menunjukkan gejala nyeri dada harus disingkirkan dan hal ini dirincikan dalam bagian Diagnosis Banding.

Penatalaksanaan

Bagian Evaluasi berisi tes-tes yang penting untuk tata laksana sindrom koroner akut. Mengulang tes laboratorium seperti EKG dan troponin T atau I jantung sangat direkomendasikan. Tes tambahan juga dapat dilakukan sebelum pemulangan atau secara rawat jalan. Bagian Evaluasi juga membahas stratifikasi risiko sindrom koroner akut.

Pilihan obat yang direkomendasikan untuk mengobati pasien dengan sindrom koroner akut seperti agen antiplatelet (misalnya Aspirin, Cangrelor, Clopidogrel, Prasugrel, Ticagrelor, inhibitor Glikoprotein IIb/IIIa, Vorapaxar), antikoagulan (misalnya Heparin berat molekul rendah, Heparin tidak terfraksi), inhibitor faktor Xa (misalnya Apixaban, Fondaparinux, Rivaroxaban), inhibitor trombin langsung (misalnya Argatroban, Bivalirudin), agen antiangina (misalnya penyekat beta, nitrat, antagonis kalsium, opioid), statin intensitas tinggi, inhibitor angiotensin-converting enzyme (ACE), antagonis angiotensin II, dan antagonis aldosteron dibahas secara rinci dalam bagian Terapi Farmakologis. Agen lain yang dapat digunakan untuk pengobatan sindrom koroner akut juga disertakan.

Beberapa pilihan non-obat yang perlu dipertimbangkan yang dapat membantu dalam tata laksana sindrom koroner akut meliputi edukasi pasien dan pengasuh, strategi invasif seperti angiografi koroner dan revaskularisasi, pengobatan suportif seperti tirah baring dan oksigen tambahan, serta olahraga ditampilkan dalam bagian Nonfarmakologis. Tata laksana faktor risiko yang mencakup penghentian merokok, pengendalian tekanan darah (TD), strategi modifikasi gaya hidup dan diet, serta tata laksana komorbiditas yang memadai seperti diabetes, hiperlipidemia, dan obesitas/berat badan berlebih juga dibahas dalam bagian ini.

Komplikasi setelah SKA dan tata laksana yang disarankan dibahas dalam bagian Komplikasi.